Selasa, 08 April 2008

1. Keadaan Khas Masa Remaja

a. Sebagai peralihan dari masa anak menuju ke masa dewasa, masa remaja merupakan masa yang penuh dengan kesulitan dan gejola, baik bagi remaja sendiri maupun bagi orang tuanya. Seringkali karena ketidaktahuan dari orang tua mengenai keadaan masa remaja tersebut ternyata mampu menimbulkan bentrokan dan kesalahpahaman antara remaja dengan orang tua yakni dalam keluarga atau ramaja dengan lingkungannya.

b. Hal tersebut di atas tentunya tidak membantu si remaja untuk melewati masa ini dengan wajar, sehingga berakibat terjadinya berbagai macam gangguan tingkah laku seperti penyalahgunaan zat, atau kenakalan remaja atau gangguan mental lainnya. Orang tua seringkali dibuat bingung atau tidak berdaya dalam menghadapi perkembangan anak remajanya dan ini menambah parahnya gangguan yang diderita oleh anak remajanya.

c. Untuk menghindari hal tersebut dan mampu menentukan sikap yang wajar dalam menghadapi anak remaja, kita sekalian diharapkan memahami perkembangan remajanya beserta ciri-ciri khas yang terdapat pada masa perkembangan tersebut. Dengan ini diharapkan bahwa kita (yang telah dewasa) agar memahami atas perubahan-perubahan yang terjadi pada diri anak dan remaja pada saat ia mamasuki masa remajanya.

d. Begitu pula dengan memahami dan membina anak/remaja agar menjadi individu yang sehat dalam segi kejiwaan serta mencegah bentuk kenakalan remaja perlu memahami proses tumbuh kembangnya dari anak sampai dewasa.

2. Beberapa Ciri Khas Masa Remaja adalah:

a. Perubahan peranan
Perubahan dari masa anak ke masa remaja membawa perubahan pada diri seorang individu. Kalau pada masa anak ia berperanan sebagai seorang individu yang bertingkah laku dan beraksi yang cenderung selalu bergantung dan dilingungi, maka pada masa remaja ia diharapkan untuk mampu berdiri sendiri dan ia pun berkeinginan mandiri.
Akan tetapi sebenarnya ia masih membutuhkan perlindungan dan tempat bergantung dari orang tuanya. Pertentangan antara keinginan untuk bersikap sebagai individu yang mampu berdiri sendiri dengan keinginan untuk tetap bergantung dan dilindungi, akan menimbulkan konflik pada diri remaja. Akibat konflik ini, dalam diri remaja timbul kegelisahan dan kecemasan yang akan mewarnai sikap dan tingkah lakunya. Ia menjadi mudah sekali tersinggung, marah, kecewa dan putus asa.

b. Daya fantasi yang berlebihan
Keterbatasan kemampuan yang ada pada diri remaja menyebabkan ia tidak selalu mampu untuk memenuhi berbagai macam dorongan kebutuhan dirinya.

c. Ikatan kelompok yang kuat
Ketidakmampuan remaja dalam menyalurkan segala keinginan dirinya menyebabkan timbulnya dorongan yang kuat untuk berkelompok. Dalam kelompok, segala kekuatan dirinya seolah-olah dihimpun sehingga menjadi sesuatu kekuatan yang besar. Remaja akan merasa lebih aman dan terlindungi apabila ia berada di tengah-tengah kelompoknya. Oleh karena itu ia berusaha keras untuk dapat diakui oleh kelompoknya dengan cara menyamakan dirinya dengan segala sesuatu yang ada dalam kelompoknya. Rasa setia kawan terjalin dengan erat dan kadang-kadang menjurus ke arah tindak yang membabi buta.

d. Krisis identitas
Tujuan akhir dari suatu perkembangan remaja adalah terbentuknya identitas diri. Dengan terbentuknya identitas diri, seorang individu sudah dapat memberi jawaban terhadap pertanyaan: siapakah, apakah saya mampu dan dimanakah tempat saya berperan.
Ia telah dapat memahami dirinya sendiri, kemampuan dan kelamahan dirinya serta peranan dirinya dalam lingkungannya. Sebelum identitas diri terbentuk, pada umumnya akan terjadi suatu krisis identitas. Setiap remaja harus mampu melewati krisisnya dan menemukan jatidirinya.

3. Berbagai Motivasi Dalam Penyalahgunaan Obat

a. Motivasi dalam penyalahgunaan zat dan narkotika ternyata menyangkut motivasi yang berhubungan dengan keadaan individu (motivasi individual) yang mengenai aspek fisik, emosional, mental-intelektual dan interpersonal.

b. Di samping adanya motivasi individu yang menimbulkan suatu tindakan penyalahgunaan zat, masih ada faktor lain yang mempunyai hubungan erat dengan kondisi penyalahgunaan zat yaitu faktor sosiokultural seperti di bawah ini; dan ini merupakan suasana hati menekan yang mendalam dalam diri remaja; antara lain:

1. Perpecahan unit keluarga misalnya perceraian, keluarga yang berpindah-pindah, orang tua yang tidak ada/jarang di rumah dan sebagainya.

2. Pengaruh media massa misalnya iklan mengenai obat-obatan dan zat.

3. Perubahan teknologi yang cepat.

4. Kaburnya nilai-nilai dan sistem agama serta mencairnya standar moral; (hal ini berarti perlu pembinaan Budi Pekerti – Akhlaq)

5. Meningkatnya waktu menganggur.

6. Ketidakseimbangan keadaan ekonomi misalnya kemiskinan, perbedaan ekonomi etno-rasial, kemewahan yang membosankan dan sebagainya.

7. Menjadi manusia untuk orang lain.

Adanya faktor-faktor sosial kultural seperti yang dikemukakan di atas akan mempengaruhi kehidupan manusia dan dapat menimbulkan motivasi tertentu untuk mamakai zat. Pengaruh ini akan terasa lebih jelas pada golongan usia remaja, karena ditinjau dari sudut perkembangan, remaja merupakan individu yang sangat peka terhadap berbagai pengaruh, baik dari dalam diri maupun dari luar dirinya atau lingkungan.

UPAYA PENCEGAHAN

UPAYA PENCEGAHAN MASALAH PENYALAHGUNAAN ZAT

Karakteristik psikogis yang khas pada remaja merupakan faktor yang memudahkan terjadinya tindakan penyalahgunaan zat.Namun demikian, untuk terjadinya hal tersebut masih ada faktor lain yang memainkan peranan penting yaitu faktor lingkungan si pemakai zat. Faktor lingkungan tersebut memberikan pengaruh pada remaja dan mencetuskan timbulnya motivasi untuk menyalahgunakan zat. Dengan kata lain, timbulnya masalah penyalahgunaan zat dicetuskan oleh adanya interaksi antara pengaruh lingkungan dan kondisi psikologis remaja.

Di dalam upaya pencegahan, tindakan yang dijalankan dapat diarahkan pada dua sasaran proses. Pertama diarahkan pada upaya untuk menghindarkan remaja dari lingkungan yang tidak baik dan diarahkan ke suatu lingkungan yang lebih membantu proses perkembangan jiwa remaja. Upaya kedua adalah membantu remaja dalam mengembangkan dirinya dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan (suatu proses pendampingan kepada si remaja, selain: pengaruh lingkungan pergaulan di luar selain rumah dan sekolah).

Jadi remaja sebenarnya berada dalam 3 (tiga) pengaruh yang sama kuat, yakni sekolah (guru), lingkungan pergaulan dan rumah (orang tua dan keluarga); serta ada 2 buah proses yakni menghindar dari lingkungan luar yang jelek, dan proses dalam diri si remaja untuk mandiri dan menemukan jatidirinya.

Dalam rangka membimbing dan mengarahkan perkembangan remaja, bidang yang menjadi pusat perhatian adalah:

1. Sikap dan tingkah laku.

2. Emosional

3. Mental – intelektual

4. Sosial

5. Pembentukan identitas diri.

Tindakan apa yang harus dan dapat dilakukan, secara garis besar akan diuraikan di bawah ini:

1. Sikap dan tingkah laku

Tujuan dari suatu perkembangan remaja secara umum adalah merubah sikap dan tingkah lakunya, dari cara yang kekanak-kanakan menjadi cara yang lebih dewasa. Sikap kekanak-kanakan seperti mementingkan diri sendiri (egosentrik), selalu menggantungkan diri pada orang lain, menginginkan pemuasan segera, dan tidak mampu mengontrol perbuatannya, harus diubah menjadi mampu memperhatikan orang lain, berdiri sendiri, menyesuaikan keinginan dengan kenyataan yang ada dan mengontrol perbuatannya sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.Untuk itu dibutuhkan perhatian dan bimbingan dari pihak orang tua. Orang tua harus mampu untuk memberi perhatian, memberikan kesempatan untuk remaja mencoba kemampuannya. Berikan penghargaan dan hindarkan kritik dan celaan.

2. Emosional

Untuk mendapatkan kebebasan emosional, remaja mencoba merenggangkan hubungan emosionalnya dengan orang tua; ia harus dilatih dan belajar untuk memilih dan menentukan keputusannya sendiri. Usaha ini biasanya disertai tingkah laku memberontak atau membangkang. Dalam hal ini diharapkan pengertian orang tua untuk tidak melakukan tindakan yang bersifat menindas, akan tetapi berusaha membimbingnya secara bertahap. Udahakan jangan menciptakan suasana lingkungan yang lain, yang kadang-kadang menjerumuskannya. Anak menjadi nakal, pemberontak dan malah mempergunakan narkotika (menyalahgunakan obat).

3. Mental – intelektual

Dalam perkembangannya mental – intelektual diharapkan remaja dapat menerima emosionalnya dengan memahami mengenai kelebihan dan kekurangan dirinya. Dengan begitu ia dapat membedakan antara cita-cita dan angan-angan dengan kenyataan sesungguhnya.Pada mulanya daya pikir remaja banyak dipengaruhi oleh fantasi, sejalan dengan meningkatnya kemampuan berpikir secara abstrak. Pikiran yang abstrak ini seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dan dapat menimbulkan kekecewaan dan keputusasaan. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan bantuan orang tua dalam menumbuhkan pemahaman diri tentang kemampuan yang dimilikinya berdasarkan kemampuan yang dimilikinya tersebut. Jangan membebani remaja dengan berbagai macam harapan dan angan-angan yang kemungkinan sulit untuk dicapai.

4. Sosial

Untuk mencapai tujuan perkembangan, remaja harus belajar bergaul dengan semua orang, baik teman sebaya atau tidak sebaya, maupun yang sejenis atau berlainan jenis. Adanya hambatan dalam hal ini dapat menyebabkan ia memilih satu lingkungan pergaulan saja misalnya suatu kelompok tertentu dan ini dapat menjurus ke tindakan penyalahgunaan zat. Sebagaimana kita ketahui bahwa ciri khas remaja adalah adanya ikatan yang erat dengan kelompoknya.Hal ini menimbulkan ide, bagaimana caranya agar remaja memiliki sifat dan sikap serta rasa (Citra: disiplin dan loyalitas terhadap teman, orang tua dan cita-citanya. Selain itu juga kita sebagai orang tua dan guru, harus mampu menumbuhkan suatu Budi Pekerti/Akhlaq yang luhur dan mulia; suatu keberanian untuk berbuat yang mulia dan menolong orang lain dan menjadi teladan yang baik.

5. Pembentukan identitas diri

Akhir daripada suatu perkembangan remaja adalah pembentukan identitas diri. Pada saat ini segala norma dan nilai sebelumnya merupakan sesuatu yang datang dari luar dirinya dan harus dipatuhi agar tidak mendapat hukuman, berubah menjadi suatu bagian dari dirinya dan merupakan pegangan atau falsafah hidup yang menjadi pengendali bagi dirinya. Untuk mendapatkan nilai dan norma tersebut diperlukan tokoh identifikasi yang menurut penilaian remaja cukup di dalam kehidupannya. Orang tua memegang peranan penting dalam preoses identifikasi ini, karena mereka dapat membantu remajanya dengan menjelaskan secara lebih mendalam mengenai peranan agama dlam kehidupan dewasa, sehingga penyadaran ini memberikan arti yang baru pada keyakinan agama yang telah diperolehnya. Untuk dapat menjadi tokoh identifikasi, tokoh tersebut harus menjadi kebanggaan bagi remaja. Tokoh yang dibanggakan itu dapat saja berupa orang tua sendiri atau tokoh lain dalam masyarakat, baik yang masih ada maupun yang hanya berasal dari sejarah atau cerita.

Sebagai ikhtisar dari apa yang dapat dilakukan orang tua dan guru dalam upaya pencegahan, dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Memahami sikap dan tingkah laku remaja dan menghadapinya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.

2. Memberikan perhatian yang cukup baik dalam segi material, emosional, intelektual, dan sosial.

3. Memberikan kebebasan dan keteraturan serta secara bersamaan pengarahan terhadap sikap, perasaan dan pendapat remaja.

4. Menciptakan suasana rumah tangga/keluarga yang harmonis, intim, dan penuh kehangatan bagi remaja.

5. Memberikan penghargaan yang layak terhadap pendapat dan prestasi yang baik.

6. Memberikan teladan yang baik kepada remaja tentang apa yang baik bagi remaja.

7. Tidak mengharapkan remaja melakukan sesuatu yang ia tidak mampu atau orang tua tidak melaksanakannya (panutan dan keteladanan).

Apa yang dikemukakan di atas hanyalah merupakan petikan secara umum dan dalam penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi yang ada pada diri remaja maupun orang tua dan guru. Dengan begitu maka setiap orang tua dan guru harus mampu untuk menafsirkan apa yang dimaksud dan menerapkannya sesuai dengan apa yang diharapkan.Yang paling penting adalah pengenalan diri sendiri dari pihak orang tua sebelum mereka mengharapkan remajanya mengenal dirinya. Dengan kata lain, apa yang diharapkan dari remaja harus dapat dilaksanakan terlebih dahulu oleh orang tua dan guru.

Jumat, 28 Maret 2008

Kreatifitas adalah asal kata dari kreatif yang berarti aktif. Kreatifitas itu biasa muncul secara spontanitas atau juga karena kebiasaan. Saya merasa bahwa kreatifitas itu sealur dengan keahlian atau kemampuan yang ada pada diri seseorang.
Kreatifitas Qw:
Ø Kalau aku lagi BT biasanya aku nyanyi-nyanyi sendiri dan menulis apa yang aku rasakan sekarang. Bahkan aku menulis khayalan –khayaln yang tidak ada di dunia nyata. Alhasil tampa aku sadari aku sudah menulis banyak sekali dan bisa aku baca ketika aku sedang tidak kerjakan atau isenk…
Ø Kalau ada waktu luang biasanya aku fariasi kamar aku. Karena aku merasa kalau kamar aku itu adalah tempat dimana aku selalu merasakan suka ataupun duka. Tapi kadang-kadang ayah dan ibuku suka marah-marah juga karena aku tuch anaknya gak pernah merasa puas…. Tapi itu semua gak sia-sia loch karena dengan begitu kamar ku selalu jadi rapih,,, ada manfaatnya kan!!!!
Ø Akutuch anaknya suka isengkan?!!! Tapi kalau yang satu ini aku tuch suka ngumpulin uang-uang yang recehan… maksudnya, aku tuch kalau ada uang recehan mau itu uang yang 500 recah bahkan yang 100 rupiahpun aku tuch pasti ngumpulin. Awalnya aku suka ngumpulin uang recehan itu kerena kalau uku mau pulang kerumahkan aku harus naik bis nach kalau di dalam biss itukan pasti ada pengamen jadi mau gak mau kalau kita gak punya uang yang recehan kita harus ngasih yang ribuan yach sebutlach seribu rupiah. Dengan adanya uang recehan kan kita gak perlu boros-boros dan dan bisa ngasih kebanyak orang. Iyakan??
Ø Udach ujan, macet, jalanan becek, gak ada ojek, kaki lecet…. uucCchhH,,, kayak Cinta Laura aja yachhh….. yach itulah yang kita rasain kalau kita naik angkot dan gak punya kendaraan pribadi…

Senin, 17 Maret 2008

KENANGAN SEMU...


Hidup dizaman yang penuh dengan ilmu teknologi itu tidak selalu menyenangkan. Salah satu contohnya saja tukang becak, dijaman dahulu becak atau andong adalah alat transportasi yang sudah bisa dibilang sangat istimewa. Tapi setelah semakin maju teknologi maka alat transportasi seperti andong dan becak sudah tersingkirkan karena adanya alat transportasi yang lebih canggih dan tidak terlalu lelah, contohnya motor atau ojek. Begitu juga dengan kehidupan. Pada jaman dahulu jika seorang calon ibu ingin melahirkan ia cukup datang saja ke dukun beranak saja. Akan tetapi dijaman yang penuh dengan ilmu teknologi seperti sekarang ini jika seorang ibu ingin melahirkan maka ia harus pergi kerumah sakit atau bidan untuk mengecek kandungan.

Yach itulah hidup kadang sesuatu yang harusnya mudah malah kita persulit. Sebenarnya apa tang saya ceritakan ini sangat lah berkaitan dengan kehidupan pribadi saya. Disaat saya masih duduk di bangku SD saya memiliki cita-cita untuk menjadi seorang guru dan ketika saya duduk di bangku tsanawiyah saya pernah berpikir alangkah terkenalnya saya jika saya menjadi seorang artis yang selalu di sorot oleh kamera. Mungkin hal inilah yang saya contoh dari tontonan masa-masa saat itu, sehingga saya berpikir bahwa sangat indah apabila kita menjadi seseorang yang selalu diperhatikan oleh orang-orang.

Hal ini saya peraktikan didalam kehidupan sehari-hari dimana saya selalu ingin diperhatikan oleh orang-orang yang ada di sampung saya. Ketika saya masih duduk dikelas 2 tsanawiyah saya merasakan sekali saya adalah salah satu murid yang bisa dibilang yang sangat susah untuk diatur. Saat itu usia saya baru memasuki umur 13 tahun, saya sadar saat itu saya memang belum bisa disebut dengan sebutan seorang anak yang sudah dewasa, akan tetapi saat itu saya sangat ingin merasakan sekali bagaimana sich dunia orang dewasa itu ? ? ? ? sangking saya ingin tahu tentang bagaimana kehidupan orang dewasa saya sering menonton acara-acara orang dewasa, salah satu contoh filmnya adalah Ada Apa Dengan Cinta, dll.

Dulu ketika saya masih tsanawiyah saya sering sekali dihukum oleh guru BP, karena berbagai permasalahan yang saya cipkakan sendiri. Salah satu kesalahan yang saya lakukan adalah sering sekali saya datang terlambat padahal saya sudah bikin janji dengan guru BP bahwa saya tidak akan datang terlambat lagi. TruZzzZ seragam sekolah saya juga pernah digunting sama guru BP dan anggota Osis yang lain, karena seragam saya itu bisa dibilang sangat tidak layak untuk dipakai lagi. Bukan saja itu dulu ketika saya masih tsanawiyah saya suka sekali yang namanya dandan (sekarang juga suka sich) he,e.e tapi tidak separah ketika saya masih Mts dulu. Sangkin saya suka dandan , sampai-sampai saya bawa make up setiap sekolah. Hukuman demi hukuman sudah saya rasakan ketika saya masih berada di tsanawiyah dulu. Karena sudah begitu banyak kesalahan-kesalahan yang saya lakukan sampai akhirnya guru BP saya menitipkan surat panggilan terhadap orang tua saya!!!

Sampai akhirnya kesabaran kedua orang tua saya habis dan akhirnya terjadilah konflik keluarga yang saya sendiri yang menyebabkannya. Singkat cerita akhirnya ketika saya sudah mendapat laporan kelullusan akhirnya orang tua saya sudah menyiapkan sekolah yang menurut mereka sangat cocok untuk saya,. Kalian ingin tahu saya dilanjutkan sekolah kemana ?! yuPzZ,,,, saya dilanjutkan sekolah di salah satu pesatren di daerah Jawa yang sering saya sebutan dengan penjara suci.

Sayang saya tidak bisa lama tinggal dipenjara suci itu karena saya kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan saya ini. Akhirnya saya kembali pulang kerumah asal saya dong. Lalu saya kembali melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah Swasta di daerah Bekasi. Disinilah saya mulai menyadari bagaimana hancurnya perasaan seorang ibu ketika melihat anaknya susah diatur, padahal ia sudah berusaha untuk mendidik anaknya agar menjadi anak yang soleh dan solehah. Kini saya sadar bahwa kedewasan itu tidak perlu untuk dicari tapiu kedewasaan itu akan tumbuh didalam jiwa seseorang itu jika orang itu sudah datang.